BRI Syariah Patok Pertumbuhan Bisnis 70% pada 2012

BRI Syariah Patok Pertumbuhan Bisnis 70% pada 2012

Kamis, 15 Desember 2011, 16:42 WIB

Kendati ancaman krisis global tetap mengintip pada 2012, BRI Syariah tetap mengacu dengan arahan bank sentral, dengan menetapkan pertumbuhan bisnis sampai 70% pada 2012. Paulus Yoga

Jakarta–PT Bank BRI Syariah (BRI Syariah) membidik pertumbuhan sebesar 60-70% pada tahun 2012. Optimisme pertumbuhan bisnis tersebut sesuai dengan arahan Bank Indonesia yang yakin perbankan syariah bisa tumbuh maksimal sampai 79% tahun depan.

“tahun depan kita targetkan pertumbuhan 60-70%. Baik pembiayaan dan funding (pendanaan),” tukas Direktur Bisnis BRI Syariah Ari Purwandono, kepada wartawan di Kantor Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Kamis 15 Desember 2011.

Dalam mendukung pertumbuhan tersebut, perseroan akan meningkatkan layanan, khususnya di saluran perbankan elektronik (electronic banking), termasuk dengan penggunaan jaringan ATM induk usahanya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk.

“Kita kembangkan internet banking, rencana sudah bisal di kuartal satu tahun depan, sms banking juga. nanti kita kembangkan juga direct banking. Jadi, dengan ini kita harapkan orang transaksi bisa lewat handphone saja. ATM sendiri sudah tersambung ke seluruh jaringan ATM Prima dan Bersama. Sekarang sudah bisa dengan ATM BRI, tapi masih harus sempurnakan lagi,” terang Ari.

Selama 2011 sendiri, lanjutnya, sampai November tercatat pembiayaan sudah mencapai Rp8,8 triliun, naik sekitar 63% dari posisi akhir 2010 sebesar Rp5,4 triliun. Dari sisi dana pihak ketiga (DPK), tercatat sudah sebesar Rp9 triliun, naik 119% dibanding posisi akhir 2010 sebesar Rp4,1 triliun.

“Sampai akhir tahun 2011 DPK kita mau di sekitar Rp9 triliun, sementara pembiayaan bisa capai Rp9 triliun. Untuk sektor pembiayaan perkembangan paling besar di mikro dan konsumer,” tutupnya. (*)

http://www.infobanknews.com/2011/12/bri-syariah-patok-pertumbuhan-bisnis-70-pada-2012/

Hadi Santoso Calon Kuat Dirut BRI Syariah

Hadi Santoso Calon Kuat Dirut BRI Syariah

Oleh M. Munir Haikal

Kamis, 22 Desember 2011

JAKARTA: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk berencana menunjuk Moch. Hadi Santoso untuk menggantikan Ventje Rahardjo yang mundur dari jabatannya sebagai Direktur Utama PT BRI Syariah sejak 2 Desember 2011.

Sumber Bisnis mengungkapkan Hadi direncanakan mulai menjabat sejak 3 Januari tahun depan. “Kalau tidak ada perubahan, Hadi adalah calon kuat untuk Dirut BRI Syariah. Penetapan Hadi sebagai direktur utama direncanakan melaIui rapat umum pemegang saham [RUPS] BRI Syariah,” ujarnya, Kamis 22 Desember.

Hadi saat ini menjabat sebagai Pemimpin Wilayah BRI di Jawa Barat. Bisnis meminta konfirmasi ke Direktur BRI Achmad Baiquni namun yang bersangkutan mengatakan sampai saat ini belum ada keputusan mengenai Dirut BRI Syariah. “Masih dicari,” katanya.

Ventje mundur meski RUPS perseroan sempat meminta Ventje kembali memimpin bank itu. Dia memutuskan tidak melanjutkan tugas sebagai direktur utama dengan alasan kinerja perseroan sudah berkembang pesat dan dapat bersaing dengan entitas perbankan lain sehingga kepemimpinan harus dipercayakan ke generasi selanjutnya.

Menurut Ventje, 2009 merupakan tahun pijakan bagi eksistensi BRI Syariah di perbankan Indonesia. Selanjutnya, pada 2010 merupakan tahun pemantapan infrastruktur, kapasitas, sumber daya manusia untuk pergerakan BRI Syariah mencapai akselerasi optimum.

Tahun 2011 merupakan tahun lepas landas sedangkan 2012 merupakan tahun akselerasi bagi BRI Syariah untuk menyejajarkan diri dengan bank-bank lain di Tanah Air.

Ventje mulai menempati posisi Direktur Utama BRI Syariah sejak akhir 2008. BRI Syariah memiliki aset sebesar Rp10,6 triliun per 30 November 2011. Selain itu, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) per 30 November 2011 sebesar 2,08%.

Selanjutnya, jumlah dana pihak ketiga BRI Syariah mencapai Rp8,6 triliun dengan pembiayaan mencapai Rp8,9 triliun. BRI Syariah mulai beroperasi sebagai bank syariah setelah dilakukan spin off (pemisahan) dari perusahaan induk yaitu BRI.

Semula BRI Syariah adalah Bank Jasa Arta yang diambil alih oleh BRI pada 17 November 2008 setelah mendapat izin usaha dari Bank Indonesia  melalui surat No. 10/67/KEP.GBI/DpG/2008.

Selanjutnya, pada 19 Desember 2008 ditandatangani akta pemisahan Unit Usaha Syariah BRI untuk dilebur dalam BRI Syariah yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2009. (ea)

http://www.bisnis.com/articles/hadi-santoso-calon-kuat-dirut-bri-syariah

Ventje Rahardjo Mundur Dari BRI Syariah

Ventje Rahardjo Mundur Dari BRI Syariah

Oleh Hendri Tri Widi Asworo

Jum’at, 09 Desember 2011

JAKARTA: Ventje Rahardjo mengundurkan diri dari posisi direktur utama PT Bank BRI Syariah melalui rapat umum pemegang saham, hari ini. Mantan Direktur di PT Bank Internasional Indonesia Tbk itu enggan memperpanjang masa jabatan di bank tersebut.

Ventje memutuskan tak melanjutkan penugasan tersebut dengan alasan kinerja BRI Syariah sudah sangat pesat dan mapan sehingga mampu bersaing dengan perbankan di Indonesia. Oleh sebab itu, perannya sebagai pemimpin dipercayakan kepada generasi selanjutnya.
Menurutnya, pada 2009 adalah tahun pijakan penting eksistensi BRISyariah di industri perbankan syariah Indonesia.
“Dukungan dan partisipasi semua pihak termasuk pemegang saham sangat penting. Kepercayaan dan semangat memajukan perbankan syariah ini dasar utamanya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, hari ini, Jumat, 9 Desember.
Pada 2010, lanjutnya, adalah tahun pemantapan semua infrastruktur, kapasitas, sumber daya manusia untuk pergerakan sebuah bank dapat mencapai akselerasi yang optimum.
Pada tahun ini, paparnya, adalah tahun lepas landas, dimana semua sayap bisnis bergerak untuk mencapai kinerja maksimal. Hal itu bisa dilihat dari pencapaian semua rencana bisnis bank.
“Pada 2012 adalah tahun akselerasi bagi BRISyariah untuk mensejajarkan diri dengan bank lainnya di Indonesia. Karena itu saya dengan bangga menyerahkan kendali BRISyariah kepada generasi selanjutnya. Hal-hal krusial di tiga tahun pertama telah berhasil dilalui, selanjutnya tinggal melanjutkan saja” terangnya.
Ventje Rahardjo memulai masa baktinya di BRI Syariah pada akhir 2008. Di bawah kepemimpinannya, BRISyariah mampu mendorong pertumbuhan aset dari posisi 2009 Rp3 triliun mencapai Rp10,6 triliun pada 30 November 2011.
Rasio kredit bermasalah pada 30 November 2011 adalah 2,08% dari posisi 2008 sebesar 7%, sedangkan dana pihak ketiga mencapai Rp 8,6 triliun dan pembiayaan Rp8,9 triliun.
BRISyariah mulai beroperasi sebagai bank umum syariah setelah melakukan proses spin-off dari PT Bank Artha Jasa yang diambil alih oleh perusahaan induk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk pada 17 November 2008. Bank itu meraih izin usaha dari Bank Indonesia melalui surat No.10/67/KEP.GBI/DpG/2008. (ln)

3 Tahun BRI Syariah

3 Tahun BRI Syariah

Kamis, 17 November 2011

Dalam banyak kasus, bank syariah yang sudah lepas dari induknya masih “dompleng” dari sisi TI-nya. Begitu pula untuk layanan electronic delivery channel. Tidak salah memang. Namun, hal itu tetap menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi BRI Syariah. Rully Ferdian

Jakarta–Hari ini tepat tiga tahun PT Bank BRI Syariah beroperasi. Kendati masih terbilang pendatang baru di industri syariah, BRI Syariah mampu menaruh minat masyarakat (nasabah). Hal ini tentu berkat produk dan layanan yang membuahkan hasil atas kinerjanya.

Lihat saja, misalnya, perolehan laba sebelum pajak sebesar Rp23 miliar selama sembilan bulan pertama 2011 atau tumbuh 130% dari posisi akhir 2010 lalu sebesar Rp10 miliar.

Sementara dari sisi pembiayaan per September 2011, BRI Syariah mencatatkanoutstanding Rp7,9 triliun, tumbuh sekitar 60% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan jumlah aset tercatat mencapai Rp9,5 triliun.

Bahkan, belum lama ini, produk tabungan BRI Syariah juga dinobatkan sebagai pememang “The 13th Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA) 2011,” untuk kategori Tabungan Syariah.

“Kepercayaan nasabah terhadap Bank BRI Syariah terlihat dari pertumbuhan volume tabungan pada 2011 yang mencapai sekitar Rp1,2 triliun dengan total nasabah mencapai 400 ribu dari posisi Desember 2010, yaitu Rp737 miliar. Karena peningkatan yang cukup signifikan ini, kami targetkan angka Rp2 Trilliun dari produk tabungan sampai di akhir 2011,” ujar Chief of Retail Banking BRI Syariah, Khairullah, dalam keterangan pers-nya beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Salah satu program yang membantu peningkatan volume produk Tabungan BRISyariah iB adalah program ‘Hujan Emas Tabungan BRISyariah iB’ yang membagikan total 9 kg emas logam mulia untuk 1.000 orang nasabah di sepanjang 2011.

Sementara itu, jumlah nasabah dan volume Tabungan BRISyariah iB juga berasal dari nasabah loyal produk-produk pembiayaan. Produk-produk pembiayaan unggulan dari BRI Syariah yaitu Gadai BRISyariah iB, Kepemilikan Logam Mulia BRISyariah iB dan KPR BRISyariah iB, di mana nasabah juga membuka Tabungan BRISyariah iB.

Produk Gadai BRISyariah iB merupakan produk unggulan karena kinerja pembiayaannya meningkat cukup signifikan, yaitu 54,77% dibandingkan dengan posisi pada akhir 2010 sebesar Rp646,08 miliar.

Sedangkan KLM BRISyariah iB, merupakan produk inovatif yang memungkinkan seorang nasabah memiliki logam mulia melalui cara mencicil. Dalam waktu tiga bulan setelah peluncurannya, produk ini telah mencapai Rp120 miliar.

Namun, BRI Syariah lahir berawal dari akuisisi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) atas Bank Jasa Arta pada 19 Desember 2007. Kehadiran BRI Syariah semakin kuat setelah pada 19 Desember 2008, ditandatangani akta pemisahan Unit Usaha Syariah BRI, untuk melebur ke dalam BRI Syariah (spin off) yang berlaku efektif pada 1 Januari 2009.

Sama seperti halnya bank syariah yang lahir dari proses spin off, BRI Syariah pun mengalami hal yang sama, terutama masalah permodalan dan pemanfaatan teknologi informasi (TI). Karena itu, tidak salah jika BRI Syariah bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan merencanakan penawaran umum terbatas atau initial public offering (IPO) saham pada 2014, untuk memperkuat permodalan dalam pengembangan bisnis.

“Kami berencana untuk go public 3-4 tahun ke depan. Kami belum tahu berapa tepatnya saham yang akan dilepas tapi minimal 10%,” kata Direktur Bisnis BRI Syariah Ari Purwandono, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, dari sisi TI, BRI Syariah juga masih perlu pengembangan, baik dari sisiback office maupun front office. Dalam banyak kasus, bank syariah yang sudah lepas dari induknya masih “dompleng” dari sisi TI-nya. Begitu pula untul layanan electronic delivery channel. Tidak salah memang. Namun, hal itu tetap menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi BRI Syariah, untuk tetap menarik minat nasabah. Selamat ulang tahun BRI Syariah. (*)

http://www.infobanknews.com/2011/11/3-tahun-bri-syariah/

BRI Syariah Miliki 155 unit Usaha Mikro Syariah

BRI Syariah Miliki 155 unit Usaha Mikro Syariah

Senin, 14 November 2011

Angka non performing loan BRI Syariah yang dikelola micro banking saat ini sekitar 0,4% dan perbandingan antara nasabah yang lancar terhadap total seluruh nasabah mikro ada 98%. Berapa nasabahnya? Rully Ferdian

Jakarta–PT Bank BRI Syariah mencatat jumlah Usaha Mikro Syariah (UMS) mencapai 155 unit hingga 2011, dengan total area sebanyak 36 area yang melayani di hampir seluruh propinsi di Indonesia.

Group Head Micro Banking BRISyariah, Sigit Suryawan, dalam keterangan pers-nya, di Jakarta, Sabtu, 12 November 2011, menjelaskan, portofolio pembiayaan yang telah disalurkan kepada nasabah mikro pada tahun ini akan menginjak diangka Rp1,2 Triliun atau naik 176% dari tahun sebelumnya.

Produk Mikro BRISyariah iB terdiri dari tiga kategori, yaitu, Mikro 25 iB dengan plafon batas mulai Rp5 juta sampai dengan Rp25 juta tanpa jaminan, Mikro 75 iB dengan plafon batas mulai Rp5 juta sampai dengan Rp75 juta dengan agunan, dan Mikro 500 iB dengan plafon batas lebih dari Rp75 juta sampai dengan Rp500 juta. Ketiga kategori tersebut dilakukan dengan skema jual beli (murabahah).

“Pembiayaan Mikro BRISyariah iB adalah bentuk nyata penyaluran dana untuk pengembangan sektor riil bagi kemajuan usaha mandiri masyarakat Indonesia,” kata Sigit.

Ia menambahkan, silaturahmi antara BRISyariah dengan para pengusaha yang menjadi nasabah micro banking selalu dijaga dengan baik seperti adanya acara pengajian bersama, seminar tentang kewirausahaan dan sebagainya.

“Usaha ini bermanfaat untuk meminimalkan adanya potensi non performing loan (NPL) yang selama ini menjadi momok bagi pihak bank,” ujar Sigit.

“Di BRISyariah angka non performing loan yang dikelola micro banking saat ini sekitar 0,4% dan perbandingan antara nasabah yang lancar terhadap total seluruh nasabah mikro ada 98%,” tambahnya. (*)

http://www.infobanknews.com/2011/11/bri-syariah-miliki-155-unit-usaha-mikro-syariah/

 

Laba BRI Syariah Naik 130 Persen

SELASA, 25 OKTOBER 2011 | 14:11 WIB

TEMPO InteraktifJakarta – PT Bank BRI Syariah mencatat perolehan laba sebelum pajak hingga September 2011 sebesar Rp 23 miliar atau tumbuh sekitar 130 persen dari posisi akhir tahun 2010 yang sebesar Rp 10 miliar. “Kemarin kami masih investasi, akhir tahun mudah-mudahan (laba) mencapai Rp 50 miliar,” ujar Direktur Utama BRI Syariah Ventje Rahardjo di Kantor Pusat BRI Syariah, Jakarta, Selasa, 25 Oktober 2011.
Menurutnya, kinerja BRI Syariah terus menunjukkan tren menggembirakan. Dari sisi pembiayaan per September 2011, perseroan mencatatkanoutstanding telah mencapai Rp 7,9 triliun, tumbuh sekitar 60 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara jumlah aset tercatat mencapai Rp 9,5 triliun.

Ia menjelaskan, untuk pembiayaan sendiri, pertumbuhannya merata di semua segmen. Rinciannya pembiayaan komersial dari Rp 1,5 triliun menjadi Rp 2,4 triliun, bisnis linkage dari Rp 1 triliun menjadi Rp 2 triliun, konsumen dari Rp 1,5 triliun menjadi Rp 3 triliun, retail dari Rp 700 miliar menjadi Rp 1,2 triliun serta pembiyaan usaha mikro dari Rp 490 miliar menjadi Rp 1,1 triliun. “Porsi ritel kita 75 persen dari total portofolio pembiayaan, konsumer, linkage, mikro, termasuk koperasi. Kita tetap arahkan ke ritel,” ujarnya.

Dengan pertumbuhan pembiayaan yang mencapai 60 persen dalam satu tahunan, BRI Syariah mencatat perolehan laba sebelum pajak sebesar Rp 23 miliar sampai September 2011. Untuk 2011 ini, jumlah tabungan BRI Syariah ditargetkan mencapai Rp 2 triliun atau dua kali lipat dari capaian 2010 sebesar Rp 790 miliar. Sementara, total modal yang akan ditawarkan BRI Syariah meningkat sekitar Rp 3,7 triliun, dari Rp 5,5 triliun tahun lalu menjadi Rp 9,2 triliun. JAYADI SUPRIADIN . Source : http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2011/10/25/brk,20111025-363197,id.html

BRI Syariah Patok Pembiayaan Perumahan Tembus Rp1,3 Triliun

Senin, 17 Oktober 2011

Sampai akhir 2011, BRI Syariah menargetkan pembiayaan di sektor perumahan mencapai Rp1,3 triliun. Untuk menunjukkan komitmennya ke sektor tersebut, perseroan menjalin kerja sama dengan Kemenpera dalam penyaluran FLPP, yang diharapkan bisa mendanai pembiayaan 5 ribu unit rumah pada 2012. Paulus Yoga

Jakarta–PT Bank BRI Syariah mematok kucuran pembiayaan di sektor perumahan mencapai Rp1,3 triliun sampai akhir 2011. Sampai September, anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk tersebut telah menyalurkan pembiayaan perumahan sebesar Rp1,2 triliun.

“Sampai akhir tahun kita harap pembiayaan perumahan bisa mencapai Rp1,3 triliun,” tukas Direktur Pengembangan Bisnis BRI Syariah Ari Purwandono, kepada wartawan usai penandatanganan kerja sama Penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) di Jakarta, Senin, 17 Oktober 2011.

Melalui kerja sama tersebut, BRI Syariah mematok tambahan pembiayaan ke sektor perumahan sebesar Rp250 miliar untuk 5 ribu unit rumah di tahun 2012. Sampai akhir 2010 sendiri, kucuran pembiayaan perumahan perseroan tercatat baru sebesar Rp600 miliar sampai Rp700 miliar.

“Ini tergantung kinerja, jadi nanti dananya ada dari Kemenpera dan dari kita. Kita tinggal arahkan tenaga sales (penjualan) ke rumah yang murah dari FLPP ini. Sekarang masih di pembiayaan rumah biasa,” terang Ari.

Untuk pembiayaan perumahan dengan skim FLPP tersebut, lanjutnya, perseroan akan menawarkan marjin 8,5% fix (tetap) selama masa pembiayaan. Maksimal pembiayaannya sendiri ditetapkan sebesar Rp60 juta, dengan tenor maksimal 15 tahun. (*) source : http://www.infobanknews.com/2011/10/bri-syariah-patok-pembiayaan-perumahan-tembus-rp13-triliun/